25 Feb 2021 19:53 - 2 menit membaca

Bagaimana Hukum Memakan Daging Hewan yang Memakan Barang Najis?

Bagikan
Ilustrasi (Foto: Internet)

PENA9.COM — Tak jarang kita jumpai di lingkungan sekitar hewan ternak seperti sapi, kambing, ayam termasuk ikan yang memakan atau meminum barang najis atau kotoran. Bahkan ada sebagian peternak yang memanfaatkan bangkai atau barang najis lainnya sebagai pakan ternaknya. Dengan demikian maka secara otomatis di dalam hewan ternakan tersebut terdapat barang najis.

Sementara hewan ternakan itu tentu untuk di konsumsi baik untuk dirinya atau orang lain.

Bagaimana hukum Islam (fiqih) menyikapi dan menjawab tentang hukumnya mengkonsumsi daging hewan ternak yang memakan barang najis (kotoran) tersebut?

Maka untuk menemukan jawabannya, kita lihat di dalam kitab Al-majmu’ juz 9 hal.28

(ويكره أكل الجلالة وهى التى أكثر أكلها العذرة من ناقة أو بقرة أو شاة أو ديك أو دجاجة لِمَا رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عن ألبان الجلالة) ولا يحرم أكلها لانه ليس فيه أكثر من تغير لحمها وهذا لا يوجب التحريم فان أطعم الجلالة طعاما طاهرا وطاب لحمها لم يكره لما رُوِيَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ تعلف الجلالة علفا طاهرا ان كانت ناقة أربعين يوما وان كانت شاة سبعة أيام وان كانت دجاجة فثلاثة أيام)

[النووي ,المجموع شرح المهذب ,9/28]

Dan makruh memakan “jullalah”. Jullalah ialah hewan yang kebanyakan makanannya dari kotoran (najis) baik itu unta, sapi, domba, ayam jantan atau betina. Sebab ada riwayat dari Ibnu Abbas Ra., bahwa Nabi SAW melarang air susu jullalah. Dan tidak haram memakan dagingnya karena tidak ada perubahan daging yang mencolok, hal ini tidak menyebabkan pengharaman, jika binatang jullalah memakan makanan yang bersih dan dagingnya menjadi baik, maka hukumnya tidak makruh. Karena ada riwayat dari Ibnu Umar Ra. Beliau berkata bahwa jullalah  (kalau mau di konsumsi) di beri makanan yang suci, kalau itu unta maka, selama empat puluh hari, kalau domba di beri makanan yg suci dulu selama tuju hari, kalau ayam, tiga hari.

(الشَّرْحُ) حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ صَحِيحٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ قَالَ التِّرْمِذِيُّ هُوَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ أَصْحَابُنَا الْجَلَّالَةُ هِيَ الَّتِي تَأْكُلُ الْعَذِرَةَ وَالنَّجَاسَاتِ وَتَكُونُ مِنْ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالدَّجَاجِ وَقِيلَ إنْ كَانَ أَكْثَرُ أَكْلِهَا النَّجَاسَةَ فَهِيَ جَلَّالَةٌ وَإِنْ كَانَ الطَّاهِرُ أَكْثَرَ فَلَا وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهُ لَا اعْتِبَارَ بِالْكَثْرَةِ وَإِنَّمَا الِاعْتِبَارُ بِالرَّائِحَةِ وَالنَّتْنِ فَإِنْ وُجِدَ فِي عُرْفِهَا وَغَيْرِهِ رِيحُ النَّجَاسَةِ فَجَلَّالَةٌ وَإِلَّا فَلَا وَإِذَا تَغَيَّرَ لَحْمُ الْجَلَّالَةِ فَهُوَ مَكْرُوهٌ بِلَا خِلَافٍ وَهَلْ هِيَ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ أَوْ تَحْرِيمٍ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ فِي طَرِيقَةِ الْخُرَاسَانِيِّينَ (أَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْجُمْهُورِ وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ وَجُمْهُورُ الْعِرَاقِيِّينَ وَصَحَّحَهُ الرُّويَانِيُّ وَغَيْرُهُ مِنْ الْمُعْتَمَدِينَ أَنَّهُ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ قَالَ الرَّافِعِيُّ صَحَّحَهُ الْأَكْثَرُونَ

[النووي ,المجموع شرح المهذب ,9/28]

Al-hasil: hukum makan daging binatang jullalah, seperti ikan lele dst. yang diberi makan dari kotoran dan benda najis lainnya, itu hukumnya makruh, jika terdapat bau kotoran atau benda najis di dalam daging binatang jullalah tersebut. Jika tidak terdapat bau dari kotoran atau benda najis pada hewan itu, maka tidak termasuk jullalah . (Al- jumhur). Wallahu A’lam bishshowaab.

Penulis: Katib Syuriyah MWC NU Tiris Barat, Muhammad Toha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

- - Bagaimana Hukum Memakan Daging Hewan yang Memakan Barang Najis?