29 Sep 2021 21:14 - 2 menit membaca

Munas-Konbes 2021; Tidak Setuju Pemilihan Ketua Umum PBNU melalui Ahwa

Bagikan

pena9.com- Pemilihan Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (ahwa) yang sedianya akan digulirkan pada Muktamar Ke-34 NU mendapat pertentangan dari mayoritas peserta Konfrensi Besar (konbes) Nahdlatul Ulama 2021.

“(Pembahasan pemilihan ketua tanfidziyah melalui ahwa) Tidak disetujui dan kita lakukan secara voting semalam. 19 suara menolak, dua setuju, dan tiga memberikan alternatif,” kata Imam Pituduh, Ketua Komisi Organisasi, saat menyampaikan putusan komisi pada Rapat Pleno.

Lebih lanjut Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu mengatakan, dalam pembahasan tersebut terdapat beberapa opsi lain. Yang selanjutnya akan menjadi catatan.

“Ada beberapa peserta yang mengajukan opsi lain. Ini dijadikan catatan,” ujarnya.

Kesepakatan ini dikukuhkan melalui Rapat Pleno Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konbes NU 2021 yang dipimpin Ketua Steering Committee Panitia KH Ahmad Ishomuddin pada Ahad (26/9).

Sejak Muktamar Ke-33 NU, Pemilihan Rais Aam dan Rais Syuriyah di semua tingkatan melalui ahwa. Mekanisme ini, dalam pembahasan Konbes NU 2021, nyaris tidak mendapat pertentangan dan sudah disepakati perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang hadir. Akan tetapi, pemilihan ketua tanfidziyah melalui mekanisme yang sama seperti pemilihan rais syuriyah, yakni melalui ahwa, mendapat pertentangan dari mayoritas peserta.

PWNU yang sepakat beralasan pemilihan ketua tanfidziyah melalui sistem ahwa sangat penting untuk menjaga ruh organisasi, yakni menempatkan kepemimpinan tanfidziyah di bawah otoritas kepemimpinan syuriyah. Selama ini, menurut perwakilan dari Jawa Timur, beberapa kali terjadi pertentangan di antara keduanya.

Padahal semestinya, katanya, ketua tanfidziyah merupakan khadam (pembantu) dalam melaksanakan kebijakan syuriyah. Sementara itu, perwakilan dari PWNU yang tidak sepakat dengan usulan mekanisme tersebut beralasan karena tidak ada suara dari perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan PWNU dalam menentukan pilihannya.

Sebagaimana diketahui, Pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU Ke-33 Tahun 2015 di Jombang, Jawa Timur dilakukan melalui musyawarah mufakat di antara sembilan anggota ahlul halli wal aqdi (ahwa) yang dipilih langsung oleh muktamirin. Hal serupa juga diterapkan untuk pemilihan rais syuriyah di semua tingkatan. Untuk wilayah, rais syuriyah dipilih langsung oleh tujuh anggota ahwa, sedangkan di tingkat cabang, cabang istimewa, wakil cabang, dan ranting dipilih oleh lima anggota ahwa. Demikian ini termaktub dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) Bab XIV Pemilihan dan Penetapan Pengurus Pasal 40 sampai 46.

Sumber: Konferensi Pers Munas Konbes 2021
Foto: Tangkapan Layar Channel Youtube TVNU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

- - - Munas-Konbes 2021; Tidak Setuju Pemilihan Ketua Umum PBNU melalui Ahwa